Merah Senja


Puisi ini ditulis oleh pada
25 November 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

Udara dingin menusuk tulangku yang tak lagi terbungkus sempurna
Kilatan petir yang menyambar memudarkan pandanganku yang telah senja
Hembusan angin sore menggoyahkan tegak tubuhku yang telah tua
Senja memerah ketika hari-hariku tak lagi memberikan arti yang sebenarnya
Detak jantungku berat berdentum di telinga mengusik sepi hati yang tak terkira
Menghitung hembusan udara kotor yang berlalu di dada yang rata
Aku tahu diri ini tak kuasa lagi berjalan beriringan dengan putaran dunia
Sehelai kertas yang selalu menemani malam-malamku tampak taklagi berguna
Tercabik-cabik oleh kerasnya lantai dunia
Basah bergelumuran air mata langit di hari-hari setianya
Aku tahu tangan ini tak lagi dapat membelai lembut dirinya
Melipat rapih kembali di setiap lipatannya
Seekor anjing kecil yang selalu kubawa taklagi kuasa mengikuti langkahku yang hampa
Berbagi secarik roti di saat laparnya
Mendengar cerita kecil di kala tidurnya
Biarlah kisah ini kusimpan dengan setia
Di dekapan dingin seorang wanita tua
Berjalan tegar di lemahnya sebuah kota
Menuju rumah yang baka
Di akhir sebuah senja…
Selamanya…

Torehan puisi-puisi lainya :

    akhirnya by anjasberguna (1 comments)
    Akhirnya… Sebuah sampan kecil berlabuh di tepian laut biru Dengan sehelai layar menerjang ombak me …

    Dunia Akar Minus by WebAdmin (0 comments)
    Di dunia akar minus Tuhan tak lagi duduk diatas singgasananya sebagai pencipta Dengan kehendak yang …

    Lentera Akhir Malam by katjha (4 comments)
    Sepi …. hening dalam gelap dan udara malam yang dingin berhembus angin yang berbisik suara-suara d …

    Pesan Cinta Yang Dititipkan Kepada Seekor Anjing by katjha (0 comments)
    Diam … bukan karena hening dan tak sanggup untuk riuh Diam … karena tak mampu wicar menanggung k …

    Kepada Ibu by katjha (0 comments)
    Sebuah senja Selepas hujan lebat dengan prahara kecil menyisakan suasana senja yang beku, bisu dan p …

    Puisi untuk Ibu by Hasbullah (34 comments)
    Di malam yang dingin Dengan berselimut kesendirian Kuterbangun menatap langit langit kamarku Terlint …

    Untukmu Ibu by Hasbullah (3 comments)
    Di malam yang dingin Dengan berselimut kesendirian Kuterbangun menatap langit langit kamarku Terlint …

    Radio by irsyad.zaki (1 comments)
    Cerita lama terulang. Mau tahu apa yang sedang kupikirkan? Hilma di udara, antara Akbar dan Prosalin …

    Pagi Sebuah Kerinduan by katjha (0 comments)
    Hening pagi ini kusambut bersama mataku yang mulai terbuka, tanpa kokok ayam dan tetesan embun. Pagi …

    Kapankah Kau Datang Mengajakku Terbang? by WebAdmin (0 comments)
    suara-suara jangkriklah yang menyebut-nyebut namamu kini, mengkrik-krik sepanjang malam tanpa henti …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Bebas

Leave a Reply