PEMBELOK JALAN I
apa yang kau tangkap dari percik hujan yang jatuh di selokanmu? tidak lain hanya riuh
yang masih akan sama sampai adzan magrib menggema
belentara telah menganga hampa. kitalah yang merambah ilalangnya ketika perpacuan
peradaban yang masih selalu menantang untuk menyelesaikan perlombaan
yang kau kau bilang akan sangat menetukan tinggi dagumu.
lalu apa yang kau tangkap dari pertapaanmu di goa itu? tak lain hanya gemuruh
yang tekun menuntunmu untuk mereka-reka setapak
jalan belok yang lama diramalkan dan diserapahi para tetua dan nabi-nabi.
kini O, kau tebar pembelok jalan itu dan memilih dikutuki
ya, seperti menagkap suara percik hujan diselokanmu
PEMBELOK JALAN II
mereka bilang kau sudah mati. tapi akan nanti hidup lagi dalam berbagai diri
ketika itu kebohongan sudah sangat murah di warung terdekat
dukun tak lagi laku menjual pemikat. sebab perempuan begitu mudah di dapat
lalu mungkin kau akan datang ketika manusia terlalu lelap dalam diri
yang membangun tinggi tugu permissif dan merayakan pembaharuan.
â€kita butuh penyegaran†katamu
dan O kita tak butuh pembenaran lama. benarkah?
Lalu di etalase (untung benar jika masih di etalase) mana kau letakkan kebenaran yang berdebu itu?
Sudah kau buangkah ia? biar aku saja yang menggelar pesta kecil-kecilan
sambil menunggu tamu istimewaku datang
membawa peta yang sungguh tak tersanggah
terlalu bodoh untuk dibantah
PEMBELOK JALAN III
berabad rasanya kita mengemis pada satu;
Yang penuh mendiami hati
Yang menyenteri malam dengan lentera alit, karena kita percaya ada yang lebih pintu ketimbang yang biasa kita ketuk sepulang jaga ronda
Yang memperbudak matahari biar tak padam
Yang merampas jutaan alfatihah “ya tuhan, tunjukilah kami jalan lurusâ€
kita tak perlu merayap padanya, dibolehkan ngebut jika kita mau
namun jalan ini beruas kiranya
Ada yang mendaki, berbelok, menurun dan berlikaliku
siapa o siapa yang mengecat rambu-rambu?
Padang, 2007
Similar Posts:
- Bila Berondong Merindukan Bulan by omegachaos (0 comments)
- Modal wajah kuat matang Jalan gagah kumpul pandang Tegap rapi dari rambut sampai ujung kaki Emang uj …
- Setangkai Mawar Di Sudut Beranda by setodanu (0 comments)
- kuletakkan setangkai mawar disudut beranda dimana kau biasa ada walau kutahu kalau kau tak kan perna …
- Inginku untuk egois by WebAdmin (0 comments)
- Hanya ingin mendengar suaramu memanggil namaku Besar sekali rinduku mendengar renyah canda tawamu In …
- Biarlah, aku menikmatinya by WebAdmin (0 comments)
- Mungkin ini hanya seputar biasa Tapi bedebah, aku menikmatinya Bukan bercinta, hanya bercerita Bukan …
- Cinta Bagiku by hemas_moedzz (0 comments)
- bagiku cinta tu ga ada artinya, tai kucing cinta ! ! orang bilang cinta itu asyik, tapi ada yang bil …
- Untuk Apa Puisi Ini by irsyad.zaki (13 comments)
- Puisi ini, untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak di rumah masih saja membakar diri di bawah pana …
- Jejak Lumpur by anjasberguna (0 comments)
- Banyak kulihat dan kudengar sibuknya manusia mencari arti hidup sesuggguhnya. Bahkan diri inipun ti …
- Di Sudut Ini Kutenggelamkan Diri by setodanu (1 comments)
- Bukan sejenak kutelantarkan diri Terjerembab dalan duka dan tak tahu kemana Entah jiwa ini berpaling …
- Salahkah Jika Aku Menanti by Adi Jovetic (0 comments)
- “Salahkah jika aku menantimu” mungkin semua itu hanya sebuah kebodohan semata, hanya sedikit orang …
- Cinta sama tak datang dua kali by lyogi (0 comments)
- Aku pernah mengenalmu, begitupun kamu pernah mengenalku Kamu pernah berjalan disisiku, begitupun aku …
Last 5 posts by arif_rizki
- TENDA SEBERANG MAKNA - November 25th, 2007
- Tugu Batu - November 24th, 2007
- GRAVITASI DI KENINGMU - November 24th, 2007

