Archive for November, 2007

puisi hati

Tak ada angin, tak ada kabar
Kumenuggu suatu yang tak pasti
Tak ada sapa, tak ada tawa
Seribu Tanya berpacu dihati

Hari-hari panjang kulalui
Kata yang kunanti tak kunjung tiba
Sia-sia yang kudapati
Kata yang tak kuharap justru terungkap

Sakitnya hati sampai tangis tak tertahan
Teriakan mengoyak menembus diri
Panasnya hati sampai buang smua kenangan
Kehampaan membekukan diri.

Popularity: 3% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.26 out of 5)
Loading ... Loading ...

SENANDUNG LADANG JAGUNG

(ketika sia-sia aku mengusir wajahmu
dari bilikku yang pengap)

Dalam desah angin lembah yang kering,
masih kudengar nyanyian resah daun jagung
dan tanya-tanya lahir bagai asap ;
mengembang, mengembara lalu musnah tanpa jawab
selurus arus kali yang tak sudah
bagai tik-tok detak jam dinding,
yang pada malam-malam gaib :
menikamku dalam lorong-lorong kehampaan

Asaku adalah angin,
yang melintas-lintas tanpa dimensi,
secemas kelopak mawar yang dalam merah fajar
menanti mentari pagi
dan burung-burung terbang bebas
yang merindu dahan hinggapan
Ketika tiba-tiba mimpiku memadat :
kuindera ketukan langkah-langkahmu diluar kamarku,
sementara dibalik daun pintu,
aku menisik luka-lukaku

Adakah jemari lentik mentari mampu membelai
pokok-pokok jagung di ladang,
pagi ini ketika asa makin membiru dalam dahaga

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 2.8 out of 5)
Loading ... Loading ...

BATU NISAN ITU

siang
terik mentari membakar
geliat ilalang dan desah angin
kau membuka sepatu dan menghitung langkah
diantara ricik air kali

ditepi malam
kita bersimpuh panjatkan doa
darah mengucur dari tangkai kamboja yang luruh
bau dupa menyesakkan menyergap dan
lidah awan yang menjilat-jilat

“Dimana ?”, tanyaku
“Disini !”, jawabmu sambil
menunjuk tulisan di batu nisan itu :
nama kita yang mati tepat pada hari lahirku !

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 2.6 out of 5)
Loading ... Loading ...

REQUIEM

duapuluh empat ekor gagak terbang ke barat
bayangnya jatuh pada atap gubuk ini
sedangkan semua orang telah berangkat
ke garis depan
memanggul sebuah harapan :
pertanda apa lagikah ini ?

duapuluh empat ekor gagak
swaranya riuh bagai nyanyian kematian
sayapnya kibaskan bau bangkai
dan kau lihatlah :
dadaku koyak kerna luka kemarin, dan
nafasku tingal satu-satu
sedang disini tinggal tersisa
senapan kosong dan sebuah bayonet

tapi aku harus segera berangkat :
barangkali inilah saatnya !

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.5 out of 5)
Loading ... Loading ...

TAKDIR

Jika takdir ini harus kureguk
akan kupertaruhkan semua warna
seperti ketika kuindera dirimu
dalam sorot matanya

Jika air ini kering
dengan apakah aku menghanyut diri
untuk menggapai nirwanamu
adakah arus lain ditanganmu

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.63 out of 5)
Loading ... Loading ...