televisi yang kuhidupkan menjelang imsak
Di dalam kotak ajaib itu telah dibangun sebuah stasiun, stasiun ramadhan, katanya
Dan banyak lagi stasiun-stasiun serupa. Gambar-gambar gerak
Yang ditampilkan mendadak alim.
Yang dahulu mengumbar peluh dan buah dada kini berjilbab rapi. Kalem penuh simpul suci. Hanya simpul
Ustadz-ustadz mulai diberi banyak waktu berwejang di depan kamera
Iklan-iklan tak lagi mesum. Para kru dan semua bintang iklan digotong ke masjid atau background kain putih bersih. Hanya numpang saja.
Mereka jejali sahur mata kita dengan ktp-ktp cepat saji. Aneka kuis dan tawa. Langit dan bumi dipaksa bersatu hanya dalam beberapa malam
Aku tidak ingin menyebut nama. Memang begitulah setiap tahun. Sepanjang bulan suci mereka berbaris memakai mukena dan kopiah di depan mata kita tanpa malu. Mungkin tuntutan profesi. Bisa juga lebih dari itu. Namun setelah bulan suci habis, semua bakal kembali seperti semula; lagu-lagu penyejuk jiwa dimatikan diganti lagu-lagu cengeng. Ustadz-ustadz diusir dari depan kamera. Stasiun-stasiun itupun ambruk. Dan mulailah, semua bebas telanjang sambil ngakak
Kita begitu dimanja dengan kebohongan. Dimana setan lebih unggul dari kita; tak munafik dan bercadar
Ruang tempat kita menunggu terbit matahari sambil nonton tv, jika tetap saja begitu instan setiap tahun, terus diulang dan diulang, kita
sama saja sedang menunggu ajal menjemput harga diri sebuah negeri