Archive for August, 2007

Nama Cinta Setelah Lelah Aku Dipecundangi Olehnya

Cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup
rahasia. Cinta bukan sesuatu yang dibesar-besarkan. Atau
disesak hingga sesak. Cinta biasa-biasa saja,
lebih sederhana dari apa yang terpaksa kita bayangkan
sepanjang malam. Cinta bernama tanda dan perantara
dan senyuman, bukan setumpuk kerumitan negara. Cinta selalu
tampil di muka, lebih dekat dari kawat gigi kita. Cinta
bukan tarian, bukan Rock & Roll
yang disorak-sorai. Cinta lebih tua berabad-abad

dari kekalahan-kekalahan kita. Lebih panjang dari nama-nama
yang kita puja. Cinta bernama keheningan berwajah puisi
dalam ruang dan waktu yang senantiasa terjaga.
Cinta bernama dua bocah lucu
yang bermain di atas pundak Ibu mereka. Bukan
rasa kantuk yang datang begitu saja, lalu
menidurkan kita. Cinta bernama perjalanan, ucapan dan hati
yang terpelihara. Cinta bukan Cleopatra, bukan Romeo & Juliet
yang gila. Cinta bernama berkaca. Bukan dipecundangi
mabuk kepayang dan melupakan ketakutan. Bukan bunuh diri
Cinta bernama latihan jiwa. Bukan Sreno & Rokisan
Bukan kepongahan Laila & Majnun. Cinta bernama maaf,

sunyi yang tulus kita bagi. Cinta bernama sabar,
menunggu yang menyenangkan. Cinta bukan nestapa,
bukan keresahan yang kita gagahi
Cinta bernama jembatan sebentuk kehampaan
yang kita isi sepenuhnya dengan terbuka. Bukan khayalan
kosong. Cinta bernama sikap, bukan keraguan. Cinta bernama
sentuhan, bukan tikaman dari belakang. Cinta bernama
masa silam yang diberangkatkan menuju anugrah yang tak retak,
tak terpaku. Cinta bernama tempat persembunyian rahasia
masa kecilku ketika bermain petak umpet. Cinta bernama
tonggak nasip waktu dan pecahan-pecahan kaca jendela. Cinta
bernama getaran yang bahagia tersentuh siapa saja.
Cinta bernama kabar sukacita untuk sahabat.
Cinta bernama jawaban. Bernama aku yang harus bertahan.
Bernama aku yang harus bangkit, aku
yang harus berhenti merengek, yang menyulam, yang tahu diri,
yang berbenah. Iya, cinta bernama

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.22 out of 5)
Loading ... Loading ...

Di bawah Langit Jendela Tua, tak Kuucapkan Lagi Namamu

Di bawah langit jendela tua, tak kuucapkan lagi namamu
Kita telah lelah berkabung. Pertemuan dengan dambaanmu
Hanyalah ucapan selamat malam yang biasa
Di atas semua ini dunia tiada pernah berganti selain gelap
yang menyahut di langit doa.

Aku tidak lebih suatu sudut paling temaram pada lipatan sunyimu
Elang yang tersesat. Dan kau
Cakrawala yang runtuh pada permulaan pagi
Ketika jejak musim bertarung dengan laut.
Kau yang telah menyimpan matahari dalam degupmu padaku :

‘Senja telah menunggu di balik pintu kamar kita
sebelum pagi menukik embun yang gelisah.’

Dan cerita ini telah berabad-abad kita lipat di sebuah rak buku
dekat meja makan. Di bawah langit jendela tua,

sungguh, tak kuucapkan lagi namamu barang sejenak

Popularity: 1% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Khayalan

(i)
Ini khayalan menuju titik paling sensitif
Hmm, hatiku yang basahkuyup

Dan tuhan, aku berpikir, tidak cukup Ken Arok saja
yang terkalahkan Ken Dedes ?
Apa artinya betis mulus dan mempesona
Toh juga pada saatnya semua itu pasti usang
dimakan tanah

(ii)
Pada keanggunan dunia penjara
Tirai-tirai terbuka. telah tampak seluruh wajahmu
dalam geming pikiranku
Tunggu. Kemana batang hidungmu?
Tidak kutemukan lagi apa-apa selain sketsa bunga,
bukan, bukan bunga, tapi hanya sketsa daun
di ujung kelopak, mataku.

(iii)
Aku teringat marsinah. Andai kau, fi, sekuat marsinah
Pasti telah kunyatakan perburuan paling gila terhadapmu
Sayang khayalan hanya sampai kepulan hampa kecantikan
Benar yang kudambakan perempuan perkasa
Perempuan penggerus zaman
Dia yang setia tegak melahirkan benih perlawanan
pada mesin
mesin penggilas
Atau apa saja yang kurang seksi

(iv)
Segala melesat begitu cepat
Kesana kemari. melejit
Apa yang bisa kutulis selain gempuran sepi?
tiktaktiktak..
Apa yang bisa kutulis selain gempuran sepi?
tiktaktiktak..
Apa yang bisa kutulis selain gempuran sepi?
Wajahmu rontok
bersama malam yang diam-diam mematai senja

(v)
Dimana-mana manusia selalu jadi budak pikirannya
Pikiranku iba padaku
Pikiranku menuntutku. betapa aku, sungguh
tidak kuasa lari dari pikiranku
Padamu

(vi)
Jika memang belum cukup ken arok
Boleh juga kau timpakan kekalahan lelaki
pada khayalan itu padaku
Silahkan, tapi langkahi dulu batu nisanku,

(vii)
Cuih!

Popularity: 1% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 1.5 out of 5)
Loading ... Loading ...

Radio

Cerita lama terulang. Mau tahu apa yang sedang kupikirkan?
Hilma di udara, antara Akbar dan Prosalina, tak terjamah olehku.
Bersama malam konser gambus bersenandung
dari bibir itu. Senandung dan bibir yang sulit kumengerti.
Persis seperti jika kulekatkan wajahku di jendela radio
dan berkata, salam penasaran saja. Hilma,

hilma kutunggu namamu di terminal pertama
yang memulangkan kegelisahanku menuju jalan sunyi,
sampai pada wajahmu. Bagaimana harus kutuntun
kautaklukkan udara, aku sendiri terkalahkan ‘seratus dewi’.
Kalau boleh, minta lagu cinta, putar sekali,

telah kusematkan degup jantungku di kantong jaketmu,
agar cuaca pun tahu, bahwa aku pernah ada di garis
malam menyusun tiang serta temali, persis seperti ‘senja
di pelabuhan kecil chairil’. Dan bila waktumu tiba
menuruni udara, sampaikan pada bumi, aku sebutir debu
yang tersesat di pojok alismu, dekat masa silam, ‘antara
rahasia dan kemunafikan. ‘

Jember, 21 April 2006

Popularity: 1% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4 out of 5)
Loading ... Loading ...

pelayaran

ini sunyi bergetar
setengah mati
mencari perahu
penyair yang berlari
membawa nganga luka
di pantai terakhir
menghimpun ombak
jadi puisi
yang menari dalam dada
maha amuk dan hempas.

Popularity: 1% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 1.67 out of 5)
Loading ... Loading ...