Puisi Dengan Huruf “P”

by Bradley Setiyadi on July 6, 2007

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pemuda-pemuda pengangguran penuhi persada
Preman-preman politik padati parlemen
Partai-partai pembual penipu pemilih
Pandir-pandir pemerintahan perusak peradaban
Penambah persoalan
Perkeruh permasalahan
Penghancur pembangunan
Pemilu Pilkada pengharap perubahan, punah
Perubahan
Pembaharuan
Pembangunan
Perekonomian
Punah
Publik pontang-panting
Pelacur pengemis penuhi perkotaan
Petugas penggusur penghancur pemukiman
Pengembang perumahan pelenyap persawahan
Petani-petani pasrah
Pusing
Puyeng

Similar Posts:

    Nyanyian Sawah by Bradley Setiyadi (9 comments)
    Semenjak zamannya kompeni Sampai sekarang zaman reformasi Memang malang nian nasib petani Selalu dit …
    Sajak Pertemuan Mahasiswa by WebAdmin (0 comments)
    Matahari terbit pagi ini mencium bau kencing orok di kaki langit melihat kali coklat menjalar ke lau …
    PUISI by cibinong (0 comments)
    pemabuk di pelukan pelacur jalanan tabungkan keping-keping dosa tuk akhir zaman gadis kecil berbusan …
    PROSA (V) by WebAdmin (1 comments)
    Aku akan melakukan segala apa yang telah engkau ucapkan tadi Dan aku akan menjadikan jiwaku sebagai …
    Oase malam.. by Clare (0 comments)
    saat itu kulihat dirimu… satu bersinar, kecil menggoda.. terang diantara saudara lain.. oase diten …
    Tak akan pernah by Kiki Febriyanti (4 comments)
    tak akan kubiarkan jasadmu bersemayam di ranjang yang pasrah maaf, jika pesonamu membuatku lupa lebi …
    PUISI: Kau Miasha by WebAdmin (0 comments)
    kepada oktober; kuredam denting hujan dalam senyap malam yang tak pernah bisa membatasi angan tentan …
    Kereta Ekonomi by nurhadi cahyono (0 comments)
    Berdesak-desak dalam kereta Penuh sesak mengucurkan keringat Melunturkan wewangian ketiak Terjepit d …
    Kembang Turi by katjha (0 comments)
    Desau angin tak lagi semilir, menyentak mengugurkan tegaknya sosokmu dalam deraan panas padang persa …
    Bayangmu by Pratama Arjuna (0 comments)
    Relungku terasa hampa Saat bayangmu perlahan meninggalkan Ketika lilin itu dihembus angin dingin Tin …

Last 5 posts by Bradley Setiyadi

Leave a Comment



Previous post:

Next post: