Doa Rakyat Kecil


Puisi ini ditulis oleh pada
6 July 2007 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 2.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

Ya Allah
Kami hanyalah rakyat kecil yang dianggap tidak berguna, ya
Allah
Kami hanyalah pemilih terdaftar yang hanya dianggap angka,
ya Allah
Dan kami tidak tahu siapa sebenarnya yang benar-benar
membela kami, ya Allah
Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang peduli dengan
nasib kami, ya Allah
Kami hanyalah kaum tertindas
Kami hanyalah kaum melarat
Dan kami hanya mengharapkan pertolongan dari-Mu, ya Allah
Hanya Kau yang dapat membela kami
Hanya Kau yang peduli dengan nasib kami
Dan hanya Kau yang berkuasa dan berkehendak atas segala
sesuatu
Oleh karena itu, ya Allah
Dengan segala ketidakberdayaan kami
Kami tidak meminta sesuatu yang muluk dari-Mu, ya Allah
Dengarkanlah doa kami, ya Allah
Karena kami yakin Kau pasti mendengar
Tidak sekedar mendengar
Tapi kami yakin Kau pasti mengabulkan
Karena kami termasuk kategori orang-orang yang teraniaya,
ya Allah
Kami mohon pada-Mu dengan semohon-mohonnya
Bunuhlah para koruptor yang telah merampas hak kami, ya
Allah
Bunuhlah para pejabat keparat yang tega membuat rakyat
semakin melarat, ya Allah
Bunuhlah para politisi busuk yang telah menipu kami saat
Pemilu dan Pilkada, ya Allah
Bunuhlah para konglomerat bejat yang telah merampok uang
rakyat dan kabur ke luar negeri, ya Allah
Bunuhlah para pembalak liar yang telah merusak hutan serta
menyebabkan banjir dan tanah longsor dimana-mana, ya Allah
Bunuhlah para pengelola transportasi yang hanya
mementingkan keuntungan tapi tidak peduli dengan
keselamatan penumpang, ya Allah
Bunuhlah mereka yang telah membuat sinetron, infotainment
dan acara-acara yang tak bermutu lainnya di televisi, ya
Allah
Kami hanya berharap pada-Mu, ya Allah
Karena Kau-lah satu-satunya harapan kami
Please Allah

Torehan puisi-puisi lainya :

    Terserah Kau Saja by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Kami semakin apatis Kami semakin muak Entah sudah berapa kali mendengar Entah sudah berapa kali dibe …

    Nyanyian Sawah by Bradley Setiyadi (9 comments)
    Semenjak zamannya kompeni Sampai sekarang zaman reformasi Memang malang nian nasib petani Selalu dit …

    Tangisan yang Terlambat by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Sudah lama bencana ini menimpa Sudah lama lumpur ini menggenangi Sudah lama kami bangkrut total Suda …

    Rasa ini by WebAdmin (0 comments)
    Anak hawa yang tercipta untukku kini telah datang Walau telah sekian lama aku meniti jejak ke suatu …

    Yang Berkuasa by Maggothz (1 comments)
    Berjalan ku tak tentu arah Di hatiku berkemelut resah Kulihat bunga mawar terindah Yang tumbuh dari …

    Harus Bilang Sama Siapa? by Bradley Setiyadi (1 comments)
    Hidup kian sulit Segalanya semakin rumit Negeri gonjang-ganjing Kaum tertindas terus dilibas Para pe …

    Pahlawan Devisa yang Belum (Tidak) Kaya by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Kami bisa juga disebut pahlawan Kami punya jasa besar bagi negeri ini Tak kalah dengan atlet atau Pu …

    ” Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matslubi” by ekonuryadi (1 comments)
    Diantara bait bait do’a harianku Tergenang airmata airmata rindu Terselip sesal dan ragu… Duhai Ra …

    Sajak Orang Lapar by WebAdmin (0 comments)
    kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam jutaan burung-burung gagak bagai awan yang hitam …

    Pemimpin yang Waras by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Kita patut berbangga Kita patut bersyukur Karena kita dianugrahi seorang pemimpin Pemimpin yang wara …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Bebas

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. khaerudin ueng says:

    sangat megharukan
    puisi ini mengingatkan betapa susah nya kehidupan ini

Leave a Reply