Sajak Sebatang Lisong


Puisi ini ditulis oleh pada
3 July 2006 dengan 6 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (21 votes, average: 3.90 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung – 19 agustus 1978 )

* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya.

* ) Diambil dari sumber-sumber terbuka di Internet

Torehan puisi-puisi lainya :

    Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia by WebAdmin (0 comments)
    Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amara …

    Rajawali by WebAdmin (1 comments)
    Sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri Rajawali adalah pacar la …

    Pamflet Cinta by WebAdmin (0 comments)
    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman …

    Pemimpin yang Waras by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Kita patut berbangga Kita patut bersyukur Karena kita dianugrahi seorang pemimpin Pemimpin yang wara …

    Dengan Sajak by Johannes Sugianto (5 comments)
    aku ingin memapas waktu yang begitu kejam merejam hingga untuk memejamkan mata kadang aku mesti memi …

    Sajak Pertemuan Mahasiswa by WebAdmin (0 comments)
    Matahari terbit pagi ini mencium bau kencing orok di kaki langit melihat kali coklat menjalar ke lau …

    Untukmu Kekasih by Safira (0 comments)
    Raga Banyak hal telah kaulalui Banyak yang telah terjadi Dari kanak-kanak, muda, beranjak dewasa Jiw …

    Yang Pertama by astraka (1 comments)
    Yang Pertama Apa itu cinta? Cinta itu adalah rute trem bawah tanah London Mereka bilang cinta itu in …

    Di bawah Langit Jendela Tua, tak Kuucapkan Lagi Namamu by irsyad.zaki (1 comments)
    Di bawah langit jendela tua, tak kuucapkan lagi namamu Kita telah lelah berkabung. Pertemuan dengan …

    Perempuanku by katjha (0 comments)
    Bukan musim tanam padi, engkau datang dan memalingkan muka terdiri di pematang sawah kering, seulas …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: W S Rendra

Comments (6)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. tumpal marbun says:

    sAJAk sebatang lisoi, lebih bermakna keindahannya, apabila kita menghayati kejadian-kejadian sekarang dalam lingkungan sosial kita. __^^__W.S Rendra dalam puisinya merupakan gambaran kebanyakan manusia di negara kita sebagai tonggak yang tidak punya kemampuan untuk berbuat banyak. satu saran dari saya,cara memperbaiki ini semua adalah diawali dari diri kita sendiri.Bulatkan tekad, bahwa kita akan memperbaiki.

  2. Pujangga Sepuh says:

    Selamat jalan Rendra. Sajak sebatang lisong masih terngiang sejak kau membacakannya di ITB.

  3. ubay ze says:

    WS Rendra dan Mbah Surip seperti siang dan malam yang tak henti berkejaran, satu satu berpulang….smoga mereka dalam damai

    WS Rendra adalah keanggunan bumi pertiwi dan beliau serupa anak panah Api yang melesat dikegelapan malam dan menghunjam tepat pada sasarannya…

  4. john says:

    i agree “Selamat jalan Rendra. Sajak sebatang lisong masih terngiang sejak kau membacakannya di ITB.”

  5. gambel prihatin says:

    rock n rolll

  6. Nandhitaya says:

    Sesuai banged dengan keadaan negeri ini..

Leave a Reply