Pagar itu Bernama Ayah
angin puting beliung telah menerpa rumahku,
kedinginanku dalam hujan tangisan,
banjirnya merobohkan tiang-tiang iman,
kenapa aku ditinggalkan?
pokok kering di halaman belakang ikut meluruh,
dihanyutkan dan dihempaskan riak gelombang,
jika saja dapatku temukan tambatan,
jika saja engkau berdiri di sana,
jika saja langit bisa bicara,
dan hanya jika saja tak ada ?
lebih baik begitu?
angin puting beliung telah menghanyutkan pagar rumahku,
aku masih terlelap dalam banjirnya,
terhempas berkelimbungan kemudian,
adakah yang bisa memberitahu padaku?
bahwa pagar itu bernama ayah!
kebajoran.baroe.23.06.06
author
dedy – dedi@arteknpartner.com
Last 5 posts by WebAdmin
- Dalam damai aku membencimu - June 1st, 2009
- Gambar Hujan - June 1st, 2009
- Ironi Dari Sebuah Kemunafikan - June 1st, 2009
- Kekasih Abadi - June 1st, 2009
- Upgrade ke Wordpress 2.6.3 - October 26th, 2008