Kumpulan Puisi Cinta

Mohon Jangan Lepaskan Aku, Begitu Saja

Redup mu membutakan mata hati ini yg gelisah ,

seolah menampar aku yg tertidur ..

bergema dan membuatku tidak mampu bahkan untuk bernafas, sedikit saja ..

suara mu mulai menjauh, hampir tidak terdengar lagi,

bayangmu mulai samar, hampir tidak terlihat lagi,

sungguh aku tidak kuasa merasakan ini, kegelisahan ini, keterpurukan ini ..

Kekasih,

meski angin tidak memihak ku, tapi .. aku tau kau dengar suara hati ini,

terdengar seakan aku membisikan nya, apa yang ingin ku katakan ..

“mohon jangan lepaskan aku, begitu saja”

Hujan

kau buyarkan lamunan

cermin yang teduh kini bergolak

gelombang-gelombang tak berirama . . .

mulai kuperhatikan perbuatanmu

ah, ternyata kau datang coba menghibur

gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

tak peduli kau tetap menghujam

sunyiku lenyap . . .

tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

akan kusambut kedatanganmu hujan

bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

aku hanya menginginkannya

dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (Gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

aku bimbang . . .

ah sial, sebentar lagi kau datang

buru-buru kuhentikan lamunanku

dan . . .

hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

pasti ada tanda yang tertinggal

pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

sekalipun dinginan menyelimutiku

kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

itu saja . . .

dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

dipersimpangan jalan . . .

terhenti langkah kakiku . . .

kemana kuharus pergi ?

kemana sebenarnya dia pergi ?

dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

kini telah kau ambil semua harapanku . . .

tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .

Aku Saat ini

Saat logika terselimuti oleh emosi
rasa di hati kuasai jasad ini
hari kujalani tanpa tujuan pasti
yang kutahu hanya satu… DIA
Tak bisa kupungkiri otakku teracuni
yang ada di benakku hanya satu…DIA
badanku serasa kaku kala kau ada di hadapanku
tak bisa kukatakan rasaku
walau hanya dalam satu kata
biar, biar saja hanya aku yang tau
kalau engkau pujaan hatiku

Layaknya Drama

Kami bertemu untuk berpisah

Kami berjanji untuk tak saling jatuh cinta

Meski dengan dirinya yang begitu sempurna

Dan diriku yang tak punya apa-apa

Seperti kisah drama

Kami tahu akhirnya kan berpisah

Tapi kami lalui jalan bersama

Tersenyum bersama

Berbagi pilu dan perih

Dia tak hentinya berbagi

Aku tak pernah mengerti

Dia terlalu indah

Bukankah kita akan berpisah?

Lalu kami bertengkar

Hingga akhirnya sadar

Kami telah jatuh cinta

Berarti akhir kan segera datang

Entah kutuk atau karma

Kami pun berpisah

Dirinya tetap mencintaiku apa adanya

Aku membencinya dengan seribu cara

Ataukah sebaliknya

Kami terpisah ruang dan waktu

Dirinya terus bermimpi

Aku terus berlari

Berharap kami kan disatukan kembali

Layaknya drama kisah ini berakhir

Demi yang lain

Kisah ini berakhir

Layaknya drama….

Ku harap seperti drama

Kisah ini berakhir

Mati di Tanganmu

Dingin…

Hujan menemani sedari senja

Asap rokok terbatuk dari nafas

Mencoba percuma mencari hangat

Demi dirinya dia

Dia bersandar lemas

Dinding-dinding kayu kasar

Puing merah-merah kelam

Terkait daging-daging busuk

Dari koyak luka-luka

Sejak kapan tak sadar

Buram menggema dalam ingatan

Mereka berlari tanpa dirinya

Asap rokok terbatuk dari nafas

Dingin merajalela….

Hujan tak juga reda

Tiada kata kutuk untuk mereka

Mereka siapa?

Buram menggema dalam ingatan

Sakit tiap detik melihatnya

Ketika hangat hanya mimpi

Bahagia dengan senyum mereka

Kini pun sama

Hanya kini luka untuk mereka

Mereka siapa?

Dingin tiada terasa….

Bukan…bukan untuk mereka

Demi dirinya…

Tenggelam dalam buram

Tercabik-cabik luka

Tersenyum dia

Terakhir untuk dirinya

Dirinya yang mulai menangis

Di hadapannya dirinya menangis

Meski dia berharap senyum

Di saat akhir dirinya menangis

Entah tersadarkah dirinya

Atau hanya bersalah dari hatinya

Hujan tak berhenti

Meski hingga akhir

Hingga sadar dirinya

Dia mati untuknya

Seraya berbisik dia berkata

“Aku mati di tanganmu….”

 

Foto

Terpaku menatapnya tersenyum

Meski diam membisu

Indahnya terpajang kaku

Hanya dalam bujur sangkar

Membeku waktu saat itu

 

Rasa malu terpicu

Tatap matanya memandang indah

Tak bisa terpejam

Maka berdegup kencang

Hati yang memandang

 

Selamanya tak bosannya

Meski diam membisu

Tak tersentuh perubahan waktu

Bedakan kini dan lalu

Keinginan tentukan dirinya

Ego dalam kekhawatiran

 

Ia alat seorang pengecut

Berlatih untuk kenyataan

Ia adalah memori sang pelupa

Tanpanya tersesat dalam hidup nantinya

Ia candu manusia

Pernah adalah keberadaannya sang bukti

Ia adalah seni

Mampu menangkap sang waktu

Indahnya saat itu

Kumpulan Puisi Bebas

Bersama Ayah Diatas Sepeda

FotoSketcher - bonceng sepeda2

ayahku seorang petani kecil didesa
sudah terbiasa hidup dengan sederhana
karena penghasilannya yang pas pasan
kemana-mana bersepeda untuk penghematan

aku gadis kecil umurku tujuh
baru saja selesai jam sekolah
kulihat ayahku sudah menunggu
disamping sepeda kesayangannya

setiap hari kesekolah aku diantar ayah
naik sepeda kuno warnanya hitam pekat
rumahku didesa dan sekolahku dikota
aku berangkat pagi agar tak terlambat

setiap pagi aku menyusuri jalanan desa
dikanan kiriku sawah hijau terbentang
udara yang segar membuat nafasku lega
terdengar suara burung berkicau riang

hingga aku sudah duduk dibangku SMA
ayah tetap saja mengantarku pakai sepeda
sepanjang perjalanan ayahku bercerita
tentang pengalaman hidup yang dilaluinya

aku diajarkan untuk hidup sederhana
tak perlu malu kepada siapapun juga
dalam hidup janganlah berbuat hina
agar kelak bahagia bersama keluarga

waktu trus berjalan dan aku melamar kerja
hari itu aku pergi untuk test wawancara
ayah masih saja mengantarku naik sepeda
hasilnya akupun lolos dan diterima bekerja

tempat kerjaku agak jauh ditengah kota
karna itu akupun memilih naik kereta
tapi tetap saja ayah ingin mengantarku
sampai distasiun tepat didepan pintu

begitu pula pada sore harinya
ayah telah menungguku dengan setia
begitu aku turun dari kereta
kulihat ayahku sudah berada disana

aku pulang bersama ayah naik sepeda
sampai dirumah hari sudah agak gelap
tapi aku seringkali merasa tak tega
kasihan juga mendengar nafasnya megap

itulah ayahku begitu sayang pada anaknya
akupun merasa bahagia punya ayah sepertinya
tiada pernah ayah sekalipun mengeluh
meski perjalananku pulang agak jauh

hingga saatnya aku punya jabatan
aku sudah bisa membeli mobil sedan
maksud hati akan memberinya kejutan
ingin rasanya mengantar ayahku pulang

seperti biasa ayah sudah menjemputku didepan stasiun
dari jauh aku sudah melihat ayah disamping sepedanya
setelah mobil selesai kuparkir akupun segera turun
aku bergegas menuju dimana ayahku sedang berada

sesaat aku mengajaknya naik sedan dan membawanya pulang
tapi apa yang terjadi sungguh tak seperti yang kukira
ayahku menolak dan tetap ingin pulang naik sepeda
aku tak bisa memaksa dan mengikutinya dari belakang

ayah mengayuh sepeda tua itu dengan perlahan
dari dalam mobil aku menitikkan airmata haru
betapa ayahku adalah seorang yang sederhana
meski akupun sudah bisa membeli mobil baru

sesaat ingatanku terbang ke masa kecilku dulu
aku melihat seorang gadis kecil dibelakang ayahku
nampak senyum diwajahnya ketika gadis itu tertawa
Tuhan, betapa indah waktu aku sedang diboncengnya..

.oOo.

Hujan

kau buyarkan lamunan

cermin yang teduh kini bergolak

gelombang-gelombang tak berirama . . .

mulai kuperhatikan perbuatanmu

ah, ternyata kau datang coba menghibur

gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

tak peduli kau tetap menghujam

sunyiku lenyap . . .

tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

akan kusambut kedatanganmu hujan

bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

aku hanya menginginkannya

dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (Gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

aku bimbang . . .

ah sial, sebentar lagi kau datang

buru-buru kuhentikan lamunanku

dan . . .

hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

pasti ada tanda yang tertinggal

pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

sekalipun dinginan menyelimutiku

kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

itu saja . . .

dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

dipersimpangan jalan . . .

terhenti langkah kakiku . . .

kemana kuharus pergi ?

kemana sebenarnya dia pergi ?

dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

kini telah kau ambil semua harapanku . . .

tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .

Warna dalam hati

dibalik jendela ku berkaca
terhimpit angan ingin bersua
menatap kikuk sayukan mata
bercerita tentang indah aurora

lamban detik waktu berjalan
lemahkan langkah yang tertahan
dalam senyum kusembunyikan
dalam hati ku ungkapkan

maaf,..
ku hanya pecundang

diujung bumi kau bersembunyi
ditempat hampa cahaya matahari
rapuhkan khayalan dan majinasi
namun aku hanya bisa menanti

bukan ku enggan memeluk mu
ku hanya ingin tahu apa yng ada dalam fikir mu
bukan ku enggan menghampiri mu
ku hanya takut membencimu

maaf,..
ku hanya pecundang

hanya dalam hati ku berbicara
hanya dengan pena ku berkata
” maaf…”

tanda tanya

tersirat ukiran sebuah kenyataan
terukir siratan sebuah keberadaan
menyingkirkan sbuah keyakinan menjadi sebuah pertanyaan
dalam penat yang tergulung aura kemungkinan

nyata tidak nyata..
benar tidak benar
tidak ada yang tau
tidak ada yng mau mengusik bahkan melirik.

hanya angan dan bayangan
hanya perumpamaan pada keyakinan
tak ada yang tau pasti pada keadaan
berpegang teguh hanya pada kemungkinan

nyata tidak nyata
benar tidak benar
tidak ada yang mengerti
hanya hujaman pertanyaan menghakimi diri..

Lagu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis ) Oleh : Achmad Obe Marzuki

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepanjang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom bom waktu, boom !

Lagu kebangsaan nina – bobo, paling tepat !
Mari kita nyanyikan
: Nina – bobo, o nina – bo – bo
“ fantastis, sungguh menghanyutkan “
Ada kesaksian di tembak mati di tengah masa di anggap pahlawan kesiangan
Dan anak – anak berdiri disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu mengetuk
Kaca jendela mobil tuan
Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar lebih naik
Ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun
Dan petani termangu menatap asing jaman

O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam hanya membawa kabar mencekam
Dari berbagai penjuru
Peluru meletus seperti siluman, tar tar tar !

Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggung jawaban
Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota

Saat bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita Koran pagi sudah bercak darah
Jika aparat dan politikus berpuisi
Tentu tidak jatuh korban

Sejenak berani cooling down
Ketika bentrokan jadi rawan
Rakyat turun mengheningkan cipta
Berduka di tengah masa

Puisilah menjelma saksi
Menjadi kesadaran dirinya
Di hadapan undang – undang putri adil

1998/2012

iseng

basuhi bibir dengan ucapan manis
hilangkan dahaga romansa kata
dengarkan irama tarian lidah
melantunkan nada suka cita

berkeringat dahi ini
mengalir deras serasa waswas
tak padan ku untuk mengatakan
ingin sekali engkau aku bahagiakan

tak patut aku berjanji
karena aku takut tak mentepati
tapi aku bisa memberi
sedikit kepercayaan diri untuk berlari

ku tahu kau akan selalu ragu
tak sebutirpun kau percaya padaku
tapi aku mampu
menghapus ragumu dengan usahaku…

Kumpulan Antologi Puisi

Rahasia Biruku…

Biru…
aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut
dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam

biru…
ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati
yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam
membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa
dan lebih merasakan hangatnya cinta…


biru…

kau mampu memberiku warna yang berbeda di setiap sisi lemahku…
membuatku tertawa, tersenyum, dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu
kau juga memberiku rasa tenang, damai, dan juga cinta disampingmu
dengan segala kekuranganku

kau memang spesial di hatiku…
kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku…

biru…
kau sungguh membuatku bersyukur karena memilikimu,
memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta dan indahnya kehidupan…


-riksa cinta birue-

(300208)

Anak Laut

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan

Pair dan air seakan
Bercampur. Awan
tiada menutup
mata dan hatinya rindu
melihat laut terbentang biru

“Sekali aku pergi
dengan perahu
ke negeri jauhan
dan menyanyi
kekasih hati
lagu merindukan
daku”

“Tenggelam matahari
Ufuk sana tiada nyata
bayang-bayang bergerak perlahan
aku kembali kepadanya”

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan

Elegi

Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderi sebutir demi sebutir
Apa juga masih akan tiba,
Mesra yang kita bawa, tiadalah
kita biarkan hilang karena hisapan pasir
Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati.
Maka kami akan berduka, dan kanan
menghormat bersama kekasih kami.
Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian – tiada mungkin,
Dan sinar mata yang tiada terlupakan.
Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja,
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
mengeringkan kembang kerenyam*
Pepohonan sekali lai akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.
Laut India akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian
Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru.
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.
Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta…..

Yang Selalu Terapung Diatas Gelombang

Seseorang dianggap tak bersalah,
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.
Kini simaklah sebuah kisah,

Seorang pegawai tinggi,
gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,
Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,
BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.
Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan
Macam Macam Indah,
Setiap semester ganjil,
isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.
Setiap semester genap,
isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika,

Anak-anaknya pegang dua pabrik,
tiga apotik dan empat biro jasa.
Saudara sepupu dan kemenakannya
punya lima toko onderdil,
enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,
Ketika rupiah anjlok terperosok,
kepleset macet dan hancur jadi bubur,
dia ketawa terbahak- bahak
karena depositonya dalam dolar Amerika semua.
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,

Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,
maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.
Isinya masing-masing lima genggam beras,
empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.
Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,
dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,

Gelombang mau datang, datanglah gelombang,
setiap air bah pasang dia senantiasa
terapung di atas banjir bandang.
Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,
lalu dia berkata begini,
“Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,”

Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:
kekayaan misterius mau diperiksa,
kekayaan tidak jadi diperiksa,
kekayaan mau diperiksa,
kekayaan tidak diperiksa,
kekayaan harus diperiksa,
kekayaan tidak jadi diperiksa.
Bandul jam tua Westminster,
tahun empat puluh satu diproduksi,
capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,

Kemudian ide baru datang lagi,
isi formulir harta benda sendiri,
harus terus terang tapi,
dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,
karena ini soal sangat pribadi,
Selepas itu suasana hening sepi lagi,
cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,
Seseorang dianggap tak bersalah,
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.
Bagaimana membuktikan bersalah,
kalau kulit tak dapat dijamah.
Menyentuh tak bisa dari jauh,
memegang tak dapat dari dekat,

Karena ilmu kiat,
orde datang dan orde berangkat,
dia akan tetap saja selamat,
Kini lihat,
di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,
seraya menghirup teh nasgitel
dia duduk menerima telepon
dari isterinya yang sedang tur di Venezia,
sesudah menilai tiga proposal,
dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,

Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,
senandung lama Frank Sinatra
yang kemarin baru meninggal dunia,
ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta
dari sangkar tergantung di atas sana
dan tak habis-habisnya
di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,

Go, go, go, ale ale ale…

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

Jalan Ke Surga

Jalan menuju kantorMu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku.

(2007)

Kompas, Minggu, 15 April 2007

dikutip dari: Puisi Joko Pinurbo ; sumber: celanasenja.blogspot.com

Kumpulan Puisi Alam

Penyelam Kata

Ombak-ombak itu berseru-seru
Dan angin pun berbisik pelan
Menyambut darah-darah baru
Dari kutub utara hingga selatan

Adakah engkau menjawab panggilnya?
Sang mentari
Adakah mulutmu mengucap kata?
Menjawab laut bahari

Ikutlah suara kepakan sayap itu
Burung-burung camar yang terbang rendah
Agar kelak kita menjadi satu
Berbagi cinta dengan senyum yang ramah

Mari, kemari, kawanku
Datanglah ke pantai waktu
Berenanglah ke tengah laut itu
Jiwa kita menjadi satu

Selamilah
Tenggelam
Arungilah
Lautan kata-kata tenteram

*dapat dilihat juga di http://worddiver.wordpress.com 

Whiterock

Arus yang di tengah laut…

 

Kemanakah dirimu terhanyut?

terasut dan tenggelam…

Kemanakah hati itu pergi…?

meninggalkan aku di pesisir pantai…

 

Kelap-kelip air laut yang dicium sinar mentari

berdansa lincah menyambutmu,

meninggalkanku terpesona dalam hampa

 

Satu Tanya yang tertinggal,

tak terjawab…

 

Hanyutkah engkau terbawa arus yang menggoda?

atau benarkah kau sengaja menyelam…

biar hilang dari duniaku?

 

Oh, cepatlah mentari kau rebah!

biar kurengkuh sepiku

bersama datangnya pekat sang malam

 

Karena aku.. dan pantai ini..

tak sanggup lagi saling bercerita

di tengah hangatnya hari

 

 

catatan penulis: whiterock adalah nama tempat di dalam daerah Metro Vancouver, Canada (http://en.wikipedia.org/wiki/White_Rock,_British_Columbia)

Penjaga Mawar dan Kehidupannya

Bulan tak juga penuhi
Malam itu sinar bulan tak menyapanya
Namun tak sesunyi malam
Gemerisik bunga mawar
Memberinya alunan nada
Menidurkannya dengan pelan
Layaknya belaian ibunda
Yang telah tiada

Tak ada lagi selain malam
Yang ia inginkan
Meski tak berbulan
Ia tetap dapat hilang
Dalam khayal menjauhi realita kehidupan

Tetap terjaga
Mawar dengan merah darah
Meski dalam mimpi terjaga
Hanya untuknya
Meski tajam duri melukai
Tetes darah hanya untuknya
Saat tersenyum mekarnya kala pagi
Takkan ada yang mengganti

Kala terbangun mawar itu pun tersenyum
Dengan merahnya yang indah
Monoton….
Inilah hidupnya….
Meski darah tetap tertetes
Saat ia di dekatnya
Hanya mawar itu…
Hanya merah itu…
Ia dapatkan indahnya hidup ini

Kobar Bunga Dalam Senja

Pernahkah mencinta api?
Yang kobarnya memerahkan senja
Perciknya menggubah hangat
Namun tiada pernah bertuan
Bebas sebelum redup
Cahayanya memencar keindahan
Dalam kengerian ia berkobar

Ingatkah indah bunga?
Yang warnanya tentramkan mata
Harumnya tebarkan pesona
Hingga khayal tidak henti
Sebuah perbandingan keindahan
Pada semua makhluk ciptaan Tuhan
Dalam paradigma ia dibandingkan

Maka saat sabit bulan datang
Sinarnya pantulkan keindahan
Dari bunga dan api
Kobaran indah….
Dari harumnya kehilangan
Ketika bunga mencinta sang api

Dan mereka buta kan rasa
Keindahan itu menghilang
Dalam sebuah hasrat yang tertinggalkan
Sebuah kenang akan percampuran
Keindahan yang mengerikan

Hutan

hutan..
kau hasilkan udara segar
udara segarmu,seakan menghilangkan sekejap kepenakan ditubuh ku

hutan…
kau adalah sumber kehidupan
kau menghidupkan berbagai macam hewan di dunia ini

hutan..
kau adalah paru paru dunia

tanpa kau..
mungkin dunia ini akan terasa begitu panas,karna kau tidak dapat menyejukan nya kembali

tanpa kau..
mungkin hewan langka didunia ini tidak akan pernah kami lihat lagi,karna kau sudah tidak ada untuk menghidupkan mereka

hutan..
begitu banyak manfaat mu
aku berjanji akan melindungi mu
aku tidak akan pernah menyakitimu

karena engkau..kami dapat bertahan hidup..

jadi..kawan kawan lindungi lah hutan kita!!!!

From: remasilvina yuniardini [rema_silvinaandini@xxx]

Perempuanku

Bukan musim tanam padi,

engkau datang dan memalingkan muka

terdiri di pematang sawah kering,

seulas senyummu, bagai ketegaran burung bangau

menanti hujan.

 

Adakah yang salah ketika engkau datang,

tanah tempat kita bermain dulu berubah gersang.

hilang rumputan hijau, tanpa capung-capung merah.

hanya pematang kering dan langit yang masih sama biru.

 

Perempuanku..

selamat datang di tanah yang hilang petaninya

hilang kerbau, hilang gubuk di tengah sawah.

namun ada sedikit kelegaan ;

engkau masih ingat untuk datang

dengan senyum yang sama,

dengan rona wajah yang tidak berubah.

 

Ini adalah tanah tempat kita bermain waktu kecil,

ketika kita sama-sama berlarian,

mencari siput di parit pematang sawah,

menangkap ikan-ikan kecil dan

kadang saling berlemparan lumpur-lumpur

sambil bercanda dan saling mengejek dengan jenaka.

ada satu hal yang paling kuingat,

saat itu adalah sore menjelang senja,

kita menangkap dua ekor capung merah,

engkau lepaskan pita biru yang mengikat rambutmu,

kemudian engkau putus menjadi dua,

bersama kami ikatkan di ekor capung merah dan

melepaskannya terbang kembali ke langit sore yang bergurat jingga.

kala itu engkau mengatakannya kepadaku;

“biar dua capung itu sampai kapan pun tetap bersahabat seperti kita

karena telah kuberikan pita biruku untuknya”

 

Sejenak kami bertatap pandang,

sesaat buyar lamunan masa kanak-kanak

pecah senyum kami menjadi tawa riang

yang entah akan kami terjemahkan seperti apa.

Ada sejumput masa lalu yang telah kembali,

walau hanya kenangan dan ingatan yang sesaat.

(Jogjakarta/Januari/2011/Katjha)

Kumpulan Puisi dari Milis

Berbaringlah Diam-Diam

berbaring, berbaringlah diam-diam
bersama-sama kita akan tenggelam
hanyut di gelombang warna-warna
pendar-pendar kemilau pusaran cahaya

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

berbaring, berbaringlah diam-diam
kita akan terbang makin dalam
ke dunia pendar ribuan warna
dunia tanpa tangis tanpa luka

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

bebas merdeka!

Posted By: kapalselam_k @ milis bungamatahari

Asmara dalam aksara

Ada asmara dalam aksara
Ketia kita hanya bisa berbalas kata..
Ketika langit sendu dan terbata-bata
Melantun..merindu lalu menua..

Asmara tanpa kata..
Ada aku.. Kamu.. Dia..
Ketika dia melata dalam dada..
Maafku untukmu yg tak terbina..

Aksara.. Aku pada dia..
Padamu.. Jangan dulu berlalu..
Mungkin dia cukup saat ini bagiku..
Dalam aksara yg sempat berwarna..

Mungkin bintang tengah melilitkan rinduku padanya..
Aku denganmu.. Seolah merona karnanya..
Hampir saja.. Ya..
Ya.. Dalam nada psychedelia..

Bekasi,2013, 21 juni
Hampir pagi
:) Regards.

Posted By: kahardreams @ milis bungamatahari

Jantung Malam

: lelaki air

pada jaman elektrik ini
aku terbiasa tenggelam
di lautan bayang-bayang
tiang kaki matahari
yang menelan jarak dulu dan nanti

mungkin terlalu sering aku tersesat
di lalu lintas padat
gelombang warna
dari matamu yang rahasia
memabukkan makna

karena setiap debar gumam
di jantung malam
aku terjaga oleh semu geletar
menjalar dari paras tidurmu yang berpendar


life, what is it but a dream?
-LC-

Posted By: malaikat kecil (ingrid_nabu) @ milis bungamatahari

Kupu-kupu, lebah dan kembang kacang

seekor kupu-kupu terbang
hinggap di lanjaran kacang

tak lama kemudian
seekor lebah datang
menyesap sari kembang
yang mekar ungu terang

dimataku, kupu-kupu itu
serupa cinta yang sedia
menunggu

menetapi ritus rindu
bersetia beratus-ratus windu

2013

Posted By: lailatul kiptiyah @ milis bungamatahari

Sakitnya di Mainin Sama Pacar

Belum ada omongan cewe yang bisa di pegang.
semua hanya dari mulut dan tidak di barengi dengan hati yang tulus.
sampai saat ini ku masih mendapatkan perkataan* janji dan bukan bukti yang ku dapatkan.
ku berjalan terus dan ku tulis status ini, hanya Matahari, Jalan, Dan Tuhan Yang Menemani Sepi ku ini.
Ku Tak mengerti dan tak bisa ku pahami Semua.a Terjadi pada Diri Ku ini.
” Apakah harus menunggu cinta dan sayang yang tulus dari hati nurani dan bukan dari materi.?? ”
Dan ” Apakah Semua Teka Teki Ini akan Ku Bawa Sampai Akhir Hayat Ini. ?? ”
By. Uniik

Surat Untuk Ayah

siapa bilang aku tak boleh tidur di siang
hari?
bagiku langit biru
terlalu menyilaukan untuk
dinikmati.
lebih baik kututup saja mataku
dan menyimpannya
untuk bulan nanti malam.

ya. aku memang jauh
dari terang
kalau kau ingin tahu.
tempatku
tinggal
hanyalah sebatas bayang-bayang di
kakimu.
merangkak terus di atas bumi
seperti pesakitan
kusta
yang tak kunjung sembuh.
ya. begitulah aku di siang
hari.
hanya seonggok bayang penuh koreng.
tapi lihat jika
senja mulai surut
dan gelap mulai datang.
tubuhku
yang hanya sepetak itu
akan membengkak
dan akan
meluap–
membanjiri segenap ruang
dalam planet aneh ini.
dan
semua luka yang ada padaku
akan berputar
dan akan
menari–
menjadi sekawanan bintang
berkerjapan
pelan-pelan.
ya. aku memang jauh dari terang.

dan mataku

mereka hanya untuk bulan nanti malam.
dan bukan untuk
langit biru
yang selalu menyilaukan ‘tuk
dinikmati.
jadi siapa bilang aku tak boleh tidur di siang hari?

selesai: 13 agustus 2000

*judul lengkap:
“surat untuk ayah yang tak akan pernah tertuliskan”

violet_eye_1979

Puisi Bahasa Inggris

Foto

Terpaku menatapnya tersenyum

Meski diam membisu

Indahnya terpajang kaku

Hanya dalam bujur sangkar

Membeku waktu saat itu

 

Rasa malu terpicu

Tatap matanya memandang indah

Tak bisa terpejam

Maka berdegup kencang

Hati yang memandang

 

Selamanya tak bosannya

Meski diam membisu

Tak tersentuh perubahan waktu

Bedakan kini dan lalu

Keinginan tentukan dirinya

Ego dalam kekhawatiran

 

Ia alat seorang pengecut

Berlatih untuk kenyataan

Ia adalah memori sang pelupa

Tanpanya tersesat dalam hidup nantinya

Ia candu manusia

Pernah adalah keberadaannya sang bukti

Ia adalah seni

Mampu menangkap sang waktu

Indahnya saat itu

Sakitnya di Mainin Sama Pacar

Belum ada omongan cewe yang bisa di pegang.
semua hanya dari mulut dan tidak di barengi dengan hati yang tulus.
sampai saat ini ku masih mendapatkan perkataan* janji dan bukan bukti yang ku dapatkan.
ku berjalan terus dan ku tulis status ini, hanya Matahari, Jalan, Dan Tuhan Yang Menemani Sepi ku ini.
Ku Tak mengerti dan tak bisa ku pahami Semua.a Terjadi pada Diri Ku ini.
” Apakah harus menunggu cinta dan sayang yang tulus dari hati nurani dan bukan dari materi.?? ”
Dan ” Apakah Semua Teka Teki Ini akan Ku Bawa Sampai Akhir Hayat Ini. ?? ”
By. Uniik

Just An Admirer

I was all alone

A sad song I sang is all my tone

I never knew you are there

Listening to my pitiful sound

Your beauty are strange

A warm brown eyes shine

Soft lips as if I knew it before

Sea wave your long hair

 

Oh dear strange foreign beauty

Don’t you know this is what I’ve been thinking now

 

Just kiss me awhile there

For I am not your lover

Here myself as your humble secret admirer

Don’t mind your boyfriend there

As he would know how to hold his anger

 

Your smile never fade

Even in the darkness life can get

While your heart for someone else

You gave him such care more than smile

I sang a song of you

As painful as I get

Hoping of happiness for you

While this melody flowing through

 

Oh dear strange foreign beauty

Don’t you know this is what I’ve been singing through

 

Just kiss me awhile there

For I am not your lover

Here myself as your humble secret admirer

Don’t mind your boyfriend there

As he would know how to hold his anger

 

Just kiss me awhile there

For my end has come near

My love of my life that I fear

Don’t mind my presence here

Just a song from your admirer

With a pitiful sound so your boyfriend hear

Let Me Sleep In Your Palm

Darkened by the color of uncertainty
my soul be cremated in the fire of lost
burnt down to the coldest ground
broken into pieces of thousands piles
.
drowned deeper to the endless hole
where ain’t an eye will see and endure
none to grab and to hold tight
drowned slowly from inch it can be
.
waiting the sound of waited one
to fill up my deaf becomes
just to give a hope and chance
that this soul still not not listen
.
I speak no such language
so many times I’ve stayed in the silence
no words created and be gained
when no soul wants such a share
.
just as a fallen leave
says good bye to the branch
flies away and touches the ground
die and kisses the mother land
.
broken into pieces my soul is
a small part hopes others still around
just wait a moment in time
when someone gathers to create one
.
please speak to me with Your language
touch me with Your warmest hands
watch me with Your shaded eyes
and God, please let me sleep in Your palm
.
.
Seto Danu
Cogito Ergo Sum
Batam.Kantin LK.11.06.02.20:18

magazine forwarding service

Save Me

Lying down, bare naked
Undressed by this feeling of lonely
My soul suffers from the pile of words
That ended from the unstoppable drips of tears
.
A pair of wings that what I want
To fly away and glide high
Search the soul that called mine
In the desert of unborn
.
A stepping stone is just what I need
That leads my hoop onto next round
Not to stuck in the middle of a pond
Where I can’t swim to reach the shore
.
Lying down, bare naked
I feel undressed by my own feeling
I just need a hand to reach me inside
not to let me end on unstoppable fear.
.
.
.
Danu
Cogito Ergo Sum
Batam.Corner Stair.12.05.07.18:20

Waiting

In the darkness i keep my eyes open
In the rain i still stay here with tears
In the crowded i keep my ears to hear
And i am
Waiting waiting waiting. I wait you until answer me
I still i still i still. Here in the dark wait for you
What you want?, what you talk? What you need?, i give you what you want, i give you what you need
But i don’t know your feel for me!

From: Fikri Fardian l [fikrisifirdan@xxx]

Puisi - Puisi terbaru lainya

Pacar Khayalan


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.71 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sesosok bayang dan khayal

Buatan untaian seribu mimpi

Menempuh berbagai cerita tak berakhir

Dalam kepala mengalir bagai memori

Terbentuk berdasar indah cipta sang kuasa

 

Demi mereka yang tak bisa

Bukan untuk yang tak mau

Oleh karenanya takkan tersentuh

Karena biar indahnya takkan memenuhi hasrat diri

Agar tak gila mengubah arah jati diri

Meski menimbun berbagai harap tak sempurna

Entah hendak terbukti ada atau tiada

 

Sosoknya berbeda tiap saat tiap insan

Cermin jiwa dari hasrat indah dunia

Atau dari asa lama yang terlintas saja

Tergabung dengan inspirasi bila ia hidup nanti

Agar terpupuk indahnya

Agar tetap suci ia tak tersentuh

Hanya untuk penciptanya

JADILAH TEMANKU UNTUK SEKEDAR BERLARI


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

.
sepetang inipun ku masih sendiri
berteman secangkir kopi yang mengepulkan wangi sejati
dan diselimuti pucatnya cahaya sang bulan yang menari
diatas langit diapit permata berkelip menggoda hati
.
Dan warna pucatpun sudah pasti kau beri
namun tetap kubiarkan hati bersenandung menyanyi
karna kunikmati indahnya duniawi
yang diciptakan dari indahnya surgawi
.
segaris banyangan melangkah dari cangkir kopi
dan pelan pelan mencoba jauh berlari
seiring sang purnama mengendap-endap bersembunyi
diantara sang mega yang membariskan diri
.
dan sepetang inipun ku masih sendiri
membiarkan impian terus saja mengusik diri
membayangkan jutaan impian yang kian berseri
mengisi ruang kosong yang enggan sendiri kusinggahi
.
Oh purnama…berikanlah senyummu yang paling berani
akan kuterima dengan senang hati
jadilah temanku untuk sekedar berlari
melepaskan diri dari penatnya dunia ini
.
.
Seto Danu
Cogito Ergo Sum
Batam.LK.COrner Stairs.25.04.13.08:44PM

Melawan Cahaya


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku tidur di antara tawa dan doa

Terlelap dalam selimut cahaya

Aku tertidur setelah sekian lama

Tiada peduli lagi sibuk dan kerja

Beban itu kuletakkan semua

 

Ketika gelap begitu menggoda

Meski terang sinar cahaya

Kelopak mataku menutupi mata

Biarkan gelap memberi tanda

Bukan lagi waktuku untuk cinta dan bahaya

 

Segala ilmu berteori

Tubuh ini masih mampu memberi

Apa daya sang mimpi

Beri ruang untuk pergi

Jauh-jauh dari jangkau sakit hati

Dari kasih yang kau terima dengan pergi

 

Maka aku tidur di antara nyata dan mimpi

Memilih untuk terdiam sendiri

Meski ku tahu pasti

Ku ingin bermimpi hingga datang sang pagi

 

Agu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis )


Puisi ini ditulis oleh pada
6 December 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

 

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepajang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom waktu, Boom !

Lagu kebangsaan nina-bobo,paling tepat !

 

Mari kita nyanyikan :

Nina – bobo ,  o, nina – bo – bo

“ fantastis, sungguh menghanyutkan “

Ada kesaksian di tembak mati di tengah – tengah demonstran di anggap pahlawan kesiangan
Dan  anak – anak berdiri  disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu  mengetuk kaca jendela mobil

Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar naik tinggi

ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun dan petani termangu menatap asing jaman

O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam  membawa kabar mencekam
Dari  berbagai penjuru
Peluru meletus seperti  siluman, tar tar tar !

Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggungjawaban

Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang  sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota

Asap hitam menutupi langit
Air mata memuka agama kering membeku

Bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita koran pagi sudah bercak darah

Jika aparat dan politikus berpuisi

Tentu tidak jatuh korban

Sejenak cooling down

Rakyat mengheningkan cipta

Ketika bentrokan jadi rawan

Puisi di tengah – tengah masa

Menjelma saksi

Menjadi kesadaran

1998/2012

Pernahkah kamu bayangkan …?


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pernahkah kamu bayangkan, saat dulu kamu mulai mendekatiku ??

Saat saat kamu mulai memperlakukanku seakan seutuhnya aku milikmu ..

Saat saat kamu mulai meyakinkanku indahnya setiap waktu bersamamu ..

Saat saat kamu mulai menunjukkan bahwa kamu pun menyayangiku ..

Pernahkah kamu berfikir, setiap hal yang kamu lakukan padaku dulu ??

Setiap hal yang mampu membuatku jatuh cinta padamu ..

Setiap hal yang mampu membuatku semakin menyayangimu ..

Setiap hal yang mampu membuatku takut kehilangan dirimu ..

Pernahkah kamu menyadari dalamnya sayangku untukmu saat dia hadir ??

Kusadari memang dia yang pertama mengenalmu, bahkan kau sayangi ..

Kusadari memang  akulah disini yang menjadi orang ketiga diantara kalian ..

Kusadari memang akulah yang harus menjauh darimu, melupakan semuanya ..

Tapi apakah pernah terlintas dibenakmu, apabila kamu menjadi aku ??

Berusaha melupakan kamu disaat ku mulai menyayangimu ..

Berusaha menjauh saat hati ini tak mampu untuk kehilangan dirimu ..

Berusaha melepaskanmu saat aku menginginkan menjadi milikmu seutuhnya ..

Berusaha menjadi seorang yang seakan tak pernah menyayangimu, walau hati ini menangis ..

 

Hey kamu …….


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hey kamu ..

Tidakkah kamu melihat aku yang ada disini ..

Selalu disini menunggumu disetiap dentingan waktu ..

Iya disini, disini tanpa pernah kau hiraukan ..

Tanpa pernah kau sadari aku yang selalu ada ..

Hey kamu ..

Bisakah kamu menoleh sejenak ??

Melihat – memperhatikan aku sesaat saja ..

Hanya sesaat saja yang ku inginkan ..

Agar kamu pun tahu bahwa aku yang ada disini selalu menunggumu ..

DI PASAR


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sambil menunggu pagi segelas kopi pinggir pasar
Dalam tulisan yang tak pernah jadi
pikiran jauh di bawah ilusi
bagai menelan kata – kata
tertuju lalu seorang ibu separuh baya
menunggu dagangan sayur bersandar di bawah neon dalam kantuk
sungguh harga letih dan harga diri sama beratnya dipikul
sebab hidup bukan permainan dadu
sedang waktu bukan tempat kompromi
: ironis, seorang ibu separuh baya pedagang sayur itu ditagih rentenir
lantaran hutang – hutang berbunga semakin bengkak
mimpi pun buyar rasa asin keringat
sambil menghitung hasil jualan yang belum seberapa
lewati pergolakan hidup jantung pasar mengadu nasib
jiwa menjelma baja menghadapi ekonomi
belum lagi pungutan tak tertera memenuhi hitungan buku nota
: katanya , yang terpenting asal ada lebihnya sedikit
bisa menutup kebutuhan keluarga
dan spp anak – anak tidak menunggak, sudah cukup
terlepas dari harapan makmur tergantung nasib
karena suami hanya kuli bangunan yang tak jelas pendapatan
sambil mengejab mata angin membawa aroma pasar melekat di badan
baunya sudah familiar di hidung
lalu dingin mengantar pulang bergegas pagi
sebelum keamanan pasar menyuruh pergi
suara toa mengumumkan agar dagangan segera dibereskan
impian hanya lewat pelaksanaan berjiwa keras
bagi kaum kecil yang resah tertindas mengejar mimpi
dan para konglomerat nyenyak tidur dalam ruang pendingin
2012

Rasa dan Rumit


Puisi ini ditulis oleh pada
1 November 2012 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rangkaian rasa terangkai  dengan lugas..

Meranum bersama waktu..

Tumbuh besar berbarengan dengan canda..

Jabat tangan menghapus dosa, meleburkan kecanggungan..

Tawa menyembunyikan resah sampai akhirnya menangis sendiri..

Bersandar merenung , membebani pikiran , kadang pula tertawa kecil, menyalahkan masa lalu yang sudah terpilih ketika itu…

Dan akhirnya rumit menjadi jawab nya..

Seperti yang lain kembali kepada pengaduan gundah meminta jawaban..yang lalu menghela nafas panjang sambil memijat kening yang terasa penat..

Bersama lirih tulus terucap.. ” maaf sudah menjadikannya Rumit ” …

Dependency


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Andai saatnya tiba

Mampu melangkah tak peduli kanan-kiri

Tiada celaka mengena

Sepenuhnya sadar diri

Tanpa dirimu sahabat

Sejati atau bukan

 

Diri ini akan segera datang

Seakan kuat berdiri menantang

Bila harus segera dilakukan

Bila tidak raut malas bukan cobaan

 

Tiada peduli segala nilai kini

Tanpa mu saat ini

Hampa terasa sendiri

Meski dengan mereka yang pernah menemani

Tiada hadir bukan berarti mati

Tanpa dirimu semua bukan teman

Diri ini hanya peragaan

 

Hingga kelak sepi bukan sejati

Segala teman ku raih sendiri

Biarkan diri datang sendiri

Saatnya tiba tak apa

Berkumpul dengan kawan lama

Tak harus melupa sapa

Biarkan diri mengungkap siapa

 

Namun kini sahabat

Tanpamu tiada datang lekang

Bersama mereka diri hanya sekedar peragaan

Maka tiada kan datang

Meski hampa….berisi tapi hampa

Kosong tanpamu sahabat

Kosong…..

Guilty


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

One word….

Mungkin sudah gila hati ini

Bilamana nada dan lirik kau satukan

Kau hantam emosi ke otak ini

Tak terbayangkan….tak mau membayangkan

Akhirmu yang pasti kan datang

Ku biarkan merasuki hati

Segala kisah tangis dan tawa

Bersatu dalam nada dan suara

 

None again….

Tiada kira memang tak mengira

Berjalan dalam sorot cahaya

Dengan suara terpadu nada irama

Indah sosok menggetar tiada henti

Menghentak emosi sang kaki

Bilamana penuh ego tak sadarkan diri

Cantikmu nadamu senyummu

Meski bukan diri merasa itu

Tak tertahankan ketika khayal mengganti

Meski tak seberuntung itu

Tak mau merugi hingga hilang sempat

Mengkhayalku gantikan dirinya

 

It’s not tears….

Ketika mulai meredup

Mulai bermunculan akhir tak terbayangkan

Kini merasuk segala harap

Harap yang tak mungkin terjadi

Karena bila nyata bagimu

Indahmu tak akan terpaut dalam hati

Terrormu takkan menghantui

Hingga merubah diri

Maka berakhirlah semestinya

Dan dia mengharapmu

Selayak aku menatap buta itu

Meski terpejam ia

Meski buta tiada hangatmu kan menghilang

Memori tak henti menyentuh

Di setiap peluk dalam kisah

Episodemu berakhir

Dan sorot cahaya

Meredup…

 

Fantasies…Goes Around